Sabtu, 05 Desember 2020

Wartawan Kece

 

 

 

          Malam ini kita  mendapatkan pencerahan dari narasumber hebat yaitu Bapak Nur,  beliau adalah seorang wartawan,  sekaligus penulis buku. Biodatanya sebagai berikut: Anak Bugis-Makassar yang dilahirkan 10 Agustus 1960 ini namanya Nur Aliem Halvaima, SH, MH. Nama pena dan media sosial adalah Nur Terbit. Anak ke-3 dari 7 bersaudara pasangan Haji Muhammad Bakri Puang Boko - Hajjah Sitti Maryam Puang Mene. Tahun 2015 dia menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam Jakarta, program S2 ilmu hukum dengan tesis "Pola Pemberian Upah Untuk Kesejahteraan Wartawan Media Cetak di Provinsi DKI Jakarta". Sedang S1 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Syari'ah dan Hukum. Sementara Sarjana Muda di IAIN Alauddin Makassar.

        Nur menjalani profesi wartawan daerah di Makassar sejak masih kuliah, berlanjut jadi koresponden Harian Terbit (Pos Kota Grup) di Sulawesi Selatan. Menulis berita, peristiwa, laporan pandangan mata dari lapangan. Atau istilah jurnalistiknya reportase. Secara tertulis atau (kadang) dilengkapi foto dari TKP (istilah kepolisian tempat kejadian perkara) ke kantor redaksi koran/media.

        Kebetulan media saya waktu itu (1980-2014) adalah media cetak (koran). Baik ketika masih wartawan daerah di Makassar, maupun setelah bergabung di Jakarta sebagai reporter di Harian Terbit (Pos Kota Grup). Nah, ada perbedaan pola penulisan berita di koran/media dengan menulis bebas utk artikel di media

        Tentu beda lagi jika menulis utk karangan ilmiah, skripsi, makalah, tesis atau disertasi. Di media, ada format atau standar baku, yakni berita tdk boleh (dilarang) memasukkan opini penulisnya atau wartawannya. Tapi si wartawan ingin menyampaikan pendapat, gagasan, pemikiran, boleh saja. Ada tempat khusus yakni opini, artikel, yang by name.

        Utk rubrik artikel di media, sdh disiapkan, baik koran, majalah, tabloid, dll. Selain wartawan sebagai tugas utamanya, rubrik opini ini bisa diisi oleh orang luar. Maksudnya pembaca, sesuai kehalian dan bidang yang dikuasainya.

        Utk tulisan ini, ada kompensasi dari redaksi media tsb, berupa honorarium yg besarnya tergantung kemampuan media yang bersangkutan. Mereka yang ahli/pakar satu bidang ilmu, bahkan menjadi penulis tetap, yg tentu honornya juga lumayan. Saat ini media besar seperti Kompas, Majalah Tempo, Republika, Media Indonesia dan beberapa majalah menerapkan standar honor.

        Sayangnya dengan datangnya era digital ini, media cetak dan sebangsanya, banyak yang tiarap lalu tidur untuk selamanya. Kini era berganti dengan online, Satu sisi mengurangi pasar media cetak, sisi lain membuka peluang baru sebagai netizen, atau citizen jurnalism. Media Informasi pun makin banyak pilihan.

        Dulu harus ke lapak K5, lampu merah, pengecer, agen utk dapat membeli koran/majalah, skrg cukup dgn gadget atau hp, dunia sudah terbentang luas. Itu sekedar perkenalan sekitar dunia yang saya geluti selama ini sejak 1980-an. Menulis, sudah mulai dicoba-coba sejak waktu masih SD. Kebetulan ayah Pak Nur kerja di P dan K (kini Kemendikbud) Kab Maros Sulsel. Dulu ada namanya buku inpres, berbagai jenis buku bacaan, pelajaran, dongeng, cerita petualangan. Termasuk majalah anak2 Si Kuncung. Mungkin ada yg masih ingat, tapi Kuncung sdh "wafat" diteruskan majalah Bobo dan rekan-rekannya. Ayah Pak Nur bertanggungjawab membagikan buku-buku tersebut ke sekolah-sekolah, terutama Dikdas, pendidikan dasar di daerah tersebut.

        Dari sinilah saya terbiasa membaca buku-buku. Dimana kemudian sgt berguna  pada kehidupan selanjutnya saat mulai belajar menulis. Jadi benar kata orang,  untuk mahir menulis harus banyak membaca. Ya minimal membaca ulang tulisan sendiri. (dimana kekurangannya, ejaannya dll)

        Di bangku SD itu pula, saya mulai berani mengirim tulisan ke media, tepatnya di koran daerah tempat saya tinggal di Makassar. Ada koran Pedoman Rakyat (PR), koran tertua di Makassar, bahkan se Indonesia Timur. Tulisannya tentu yg ringan sesuai usia pelajar SD. Puisi Anak, Cerita Anak, bahkan ngirim gambar di rubrik Anak. Tentu bangga ketika pertama kali tulisan kita dimuat di koran. Yg lebih bangga lagi dapat honor, dikit.via wesel pos

        Setelah tulisan sudah berani dikirim ke koran dan dimuat, mulai tambah berani ikut lomba menulis. Beberapa kali saya mewakili sekolah utk lomba menulis antar sekolah dan Alhamdulillah...menang. "penyakit" suka menulis ini terus menjangkiti Pak Nur setelah di SLTP-SLTA, kebetulan Pak Nur sekolah di PGA (Pendidikan Guru Agama). Utk ujian akhir, semua siswa harus praktek di SD. Pak Nur kebagian praktek mengajar di SD Muhammadiyah Maros Sulsel, dapat kelas 6 yg muridnya badan besar, sementara badan saya kecil. Pengalaman berkesan mengajar kelas 6 SD yg muridnya seperti GIANT (teman Doraemon - Nabita itu), saya tulis dan kirim ke lomba mengarang pengalaman ke majalah remaja HAI (Kompas grup). Alhamdulillah, walau hanya juara harapan 1 (tahun 1980-an) tapi bangganya luar biasa. Hadiah kamus Indonesia-Inggris M Sadeli dan kaos HAI. Juaranya Leila S Chodori, GolaGong, AGS Arya Dwipayana, semua penulis.cerpen dan novel terkenal  di zamannya menjadi wartawan resmi saat sudah.kuliah di IAIN Makassar. Selain jadi pengelola.koran kampus.

        Terus berlanjut ke Jakarta bergabung di Harian Terbit (grup Poskota), mulai pula belajar menulis opini, tulisan feature, laporan bersambung, sesekali cerpen percintaan atau tema keluarga. Saat pensiun dini, mulai fokus.menulis blog, Kompasiana, mengenal medsos (FB, Twitter, Instagram dan YouTube). Ikut berbagai lomba nulis, beberapa diantaranya menang. Hadiah laptop, kamera, hamdphonez dan yang sering flashdisk, atau voucher belanja.

        Dari sekian banyak tulisan yg tercecer di mana-mana itulah setelah dikumpulkan akhirnya jadi buku. Yg terbaru diterbitkan YPTD-nya Pak Thamrin dahlan adalah "Wartawan Bangkotan". Tadi diantar TIKI dari percetakan ke rumah. Sebelumnya ada "Lika-Liku Kisah Wartawan" terbitan PWI Pusat 2020.  Akan menyusul buku bacaan ringan : MATI KETAWA ALA NETIZEN

        Ini kadang salah satu yang menjadi masalah penulis pemula dan kurangnya minat baca di Indonesia. Bagaimana pendapat Bapak untuk meningkatkan daya baca masyarakat? Sebentar lagi kita akan masuk sesi tanya jawab. Mohon izin bertanya dahulu sebelum kita buka sesi tanya jawab. Baik. Menurut saya, dengan banyak membaca :

1. Memperkaya perbendaharaan kata

2. Belajar EYD

3. Menambah wawasan, terutama bgmn format menulis: belajar nyusun pragfraf, huruf sambung dll

        Yang lebih terasa lagi, dgn banyak membaca tulisan orang lain,.kita belajar style (gaya) penulisan orang. Kita bisa.tiru.utk kemudian akan muncul Gaya khas kita sendiri. Yang gak boleh meniru 100 persen tulisan orang, ibarat nya sampai tirik komanya. Ini sih copy paste ya alias jiplak bin plagiat

Dari pengalaman Pak Nur selama ini, ditemukan "kunci" yg mungkin bisa jadi ini hanya duplikat dari penulis sebelumnya:

1. Menulis dengan kunci 3D. Tulislah yang D-ialami sendiri, yg D-isukai, yg D-ikuasai. Selain yg sdh disebutkan sebelumnya. Rajin baca, nonton TV/film, dengar radio utk memperkaya wawasan sbg tabungan ide kalau mau menulis, terutama genre fiksi

 2. PDLS = Peka Dengan Lingkungan Sekitar (KEPO)

 3. TBTO = Terus Belajar atau Baca (dari) Tulisan Orang

 4. TLMM = Terus Latihan Menulis di Media (Medsos)

5. TILM = Terus Ikut Lomba Menulis, sebagai uji coba sejauh mana kualitas tulisan kita

        Kalau sudah banyak tulisan dimuat dimana-mana, ya tinggal kontak Pak Thamrin Dahlan utk dibukukan. Gratis lagi kalau dgn beliau ...hehe colek @Thamrin Dahlan. Ya itu tadi. Selain materi atau isi tulisannya bagus, ya banyak belajar dengan membaca tulisan orang lain yang sudah sering menulis.

Kalau kriteria bagus dan mau dibaca orang, relatif sih Bu. Tp di media sosial, media online, blog,nKompasiana.dll, kan ada kode brp jumlah viewer atau pembacanya, yg komenz yg share. Itu sdh indikator tulisan tsb bagus, minimal banyak dibaca. Terus latihan menulis. Lalu minta pendapat keluarga, suami, anak, nih tulisan saya sdh bagus gak. kalau.bekum disempurnakan lagi..lagi..dst

berdasarkan  pertanyaan peserta Pak Nur menjelaskan bahwa setiap media punya kriteria dan standar tulisan yg bisa dimuat. Rubrik atau tulisan jenis apa yg ada di media tsb. Itu hrs dipelajari dan disesuaikan dengan tulisan yg kita mau kirim. Misalnya koran Kompas, hrs sesuai misi koran tersebut.

1. Kalau di Sumut misalnya, ada media cetak koran dan ada rubrik pendidikan, pak Budi mgkn menulis pengalaman masalah pendidikan di daerah bapak terkait masa pandemi, yang bapak kuasai, sukai, alami sendiri

2. Ya sebaiknya lebih banyak pendapat Bapak sendiri. Adapun kutipan pakar, sebagai pendukung dan penguat pendapat bapak (60 pendapat sendiri - 40 teori pakar). Jangan lupa ikut data, atau ada hasil survei dll terkait materi tulisan malah lbh bagus lagi. Selamat mencoba pak Budi..

1. Berita tdk sesuai fakta, adalah merugikan orang lain dan tentu wartawan serta koran yg muat.

    Makanya ada koridor dan kode etik dalam menulis berita. Harus cross cek, konfirmasi ke pihak yang bertanggung jawab dengan berita yg mau ditulis.  Jadi berita akan berimbang. Namun sesuai kode etik dan UU Pers, ada namanya hak jawab. Pihak yg dirugikan/diberitakan hrs diberi ruang yang sama utk menjelaskan atau mengklarifikasi. Jika medianya bandel, ada Dewan Pers. Media ybs disidang disana. Kalau melanggar ada sanksi. Jika yang diberitakan tetap belum puas, boleh ke ranah hukum. Lapor ke polisi. Tp msy lebih suka ke polisi daripada Dewan Pers.

        Seperti jawaban saya sebelumnya (ke Pak Budi), masing-masing media ada aturan baku yang spesifik. Tapi pada umumnya, media sama melihat tulisan yang dikirim ke redaksi dari sisi : tema, isi, aktualitas, cara penyampaian, kepakaran dr penulisnya.Ambil contoh koran Kompas. Tiap hari ada rubrik tetap, sesuai bidang: hukum, politik, keuangan, kesra, olah raga dll. Yang nulis juga dilihat latarbelakang penulisnya.

        Menulis pendidikan, ya biasanya pakar pedidikan, dosen, prof, rektor dll. Begitu juga bidang ilmu lainnya. Aktualitas beritanya juga dilihat. Misalnya jelang Pilpres, Pilkada, tentu gak cocok kalau kita nulis soal pemilihan RT, Kades dll. Kecuali jika studi komparasi. Misalnya, kita mengibaratkan Pilkada seperti pemilihan RT atau Kades, buktikan perbedaan dan persamaannya.

        Karena kita di grup guru, saran Pak Nur lebih pas jika kita menulis masalah pendidikan. Cari juga media yang menyiapkan rubrik pendidikan. Kan keren kalau misalnya judul artikelnya : "Kecenderungan Minat Siswa Belajar Daring di Karawang di Masa Covid-19" oleh Min Hermina, Guru SMPN 1 Cikampek.

        Wartawan adalah profesi. Dari profesi inilah saya hidup dan menghidup anak istri. Kalau saya ditanya apa hukumnya bekerja sebagai wartawan, ya tergantung bagaimana yang bersangkutan menjalaninya.Sekali sewaktu, saya dpt tugas dari kantor menulis "gosip" tentang cinta segitiga Latief (mantan Menaker, bos Sarinah) Desi Ratnasari, dan pemuda Makassar, Onasis putera Ande Latief (Tiga Utama, biro haji)Saya kumpulkan informasi yg banyak ttg yg mau ditulis

Waktu itu repotnya belum ada Mbah Google. Infotainment TV msh terbatas. Pak Latief dan Desi Ratnasari juga "ngumpet" dari.incaran media

Saya ingat, ayah pria "pacar" Desi adalah Onasis, ayahnya Pak Ande Latief (Tiga Utama) sering ketemu kalau.ada.acara manasik haji. Kebetulan lagi.sekampung

Saya pura2 ikut manasik

Pas ketemu pak Ande, saya tanya gosip putranya dgn si pelantun "Tenda Biru" itu

Dia menolak jawab. Off the record, katanya

Saya bhs Bugis dgn beliau, eh dia mau cerita. Rupanya pendekatan kedaerahan hahaha...

Pulang kantor saya tulis, esoknya naik beritanya.

Pak Ande marah, saya datangi kantor beliau minta maaf, berusaha familiar. Waktu dia bilang, "kemarin saya bilang off the record, koq tetap dimuat?". Betul Pak Ande, tapi itukan dalam bahasa Inggris, wktu saya tanya bapak kan bahasa Bugis, akhirnya beliau ketawa. Bisa pakai kertas, bisa di komputer, bisa di hp. Saya banyak di hp, lbh praktis, lbh cepat bisa dibawa kemana2, sambil tiduran juga bisa.

Kalau idenya mandeg,  tulis aja apa yang terlintas. Nanti kalau betul-betul macet, berhenti, tinggalkan, besok lanjut lagi, biasanya sudah ketemu kata yang macet itu.


Nur menjalani profesi wartawan daerah di Makassar sejak masih kuliah, berlanjut jadi koresponden Harian Terbit (Pos Kota Grup) di Sulawesi Selatan. Tahun 19…

Bangga dan bahagia sekali saya mendapat kehormatan hadir di sini utk berbagi pengalaman

Dari biodata penulis yang dishare ibu Aam (tks Bu), jelas bahwa pekerjaan saya selama ini menulis

Menulis berita, peristiwa, laporan pandangan mata dari lapangan. Ataus istilah jurnalistiknya reportase

Secara tertulis atau (kadang) dilengkapi foto dari TKP (istilah kepolisian tempat kejadian perkara) ke kantor redaksi koran/media

Kebetulan media saya waktu itu (1980-2014) adalah media cetak (koran)

Baik ketika masih wartawan daerah di Makassar, maupun setelah bergabung di Jakarta sebagai reporter di Harian Terbit (Pos Kota Grup)

Nah, ada perbedaan pola penulisan berita di koran/media dengan menulis bebas utk artikel di media

Tentu beda lagi jika menulis utk karangan ilmiah, skripsi, makalah, tesis atau disertasi

Di media, ada format atau standar baku, yakni berita tdk boleh (dilarang) memasukkan opini penulisnya atau wartawannya

Tapi si wartawan ingin menyampaikan pendapat, gagasan, pemikiran, boleh saja. Ada tempat khusus yakni opini, artikel, yang by name...

Utk rubrik artikel di media, sdh disiapkan, baik koran, majalah, tabloid, dll.

Selain wartawan sbg tugas utamanya, rubrik opini ini bisa diisi oleh orang luar. Maksudnya pembaca, sesuai kehalian dan bidang yang dikuasainya.

Utk tulisan ini, ada kompensasi dari redaksi media tsb, berupa honorarium yg besarnya tergantung kemampuan media ybs

 Mrk yg ahli/pakar satu bidang ilmu, bahkan menjadi penulis tetap, yg tentu honornya juga lumayan.

Saat ini media besar seperti Kompas, Majalah Tempo, Republika, Media Indonesia dan beberapa majalah menerapkan standar honor.

Sayangnya dgn datangnya era digital ini, media cetak dan sebangsanya, banyak yang tiarap lalu tidur utk selamanya.

 Kini era berganti dengan online. Satu sisi mengurangi pasar media cetak, sisi lain membuka peluang baru sebagai netizen, atau citizen jurnalism.

Media Informasi pun makin banyak pilihan. Dulu harus ke lapak K5, lampu merah, pengecer, agen utk dapat membeli koran/majalah, skrg cukup dgn gadget atau hp, dunia sudah terbentang luas. Itu sekedar perkenalan sekitar dunia yang saya geluti selama ini sejak 1980-an

        Luar biasa sekali materi perkuliahan malam ini, sehingga membuat saya pribadi semakin semangat dan tertantang untuk menyiapkan tulisan buku solo saya yang nantinya akan saya kirim ke penerbit. Semoga dapat terlaksana dengan baik. 

 

Salam Literasi

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar