Minggu, 08 November 2026

PUISI MOZAIK

 

Mozaik Dalam Merajut Persahabatan

Karya: Sitti Hasnidar


Tak ada mozaik yang lahir
dari sepotong warna yang sama.
Ia tumbuh dari serpih-serpih cerita,
dari retak yang memilih saling menguatkan,
dari perbedaan yang enggan menjadi sekat.

Begitulah persahabatan
selembar langit yang dijahit
oleh benang-benang kepercayaan.
Ada tawa yang mengembang bagai embun di ujung pagi,
ada air mata yang diam-diam menjadi doa.

Kita datang
dari arah mata angin yang berbeda,
membawa bahasa, adat, dan mimpi masing-masing.
Namun ketika hati saling membuka pintu,
perbedaan menjelma pelangi
yang menghubungkan satu jiwa dengan jiwa lainnya.

Setiap pertemuan
adalah kepingan kecil kehidupan,
yang disusun oleh waktu menjadi lukisan paling indah.
Tak ada yang sia-sia bahkan luka pun mengajarkan
cara menjaga yang berharga.

Mari kita rajut persahabatan
dengan benang kasih yang tak mudah putus,
dengan simpul-simpul ketulusan
yang tak lekang oleh musim.
Sebab dunia tak membutuhkan
manusia yang serupa,
melainkan hati-hati yang mampu menghargai perbedaan.

Kelak, ketika usia menguning

seperti daun di penghujung musim,
kita akan menoleh ke belakang
dan menemukan satu mahakarya
yang tak dibangun oleh batu permata,
melainkan oleh cinta, kesetiaan, dan tangan-tangan yang tak pernah lelah
menyusun mozaik dalam merajut persahabatan.


Mozaik Persahabatan

Karya: Sitti Hasnidar


Persahabatan bukanlah lukisan
yang selesai dalam sekali sapuan warna.
Ia adalah mozaik tercipta dari kepingan-kepingan kisah,
yang disusun oleh waktu, direkatkan oleh ketulusan,
dan dijaga oleh kesetiaan.

Ada keping yang berwarna tawa,
menggema di lorong-lorong kenangan.
Ada keping yang basah oleh air mata,
mengajarkan bahwa luka pun
dapat menjadi jalan menuju kedewasaan.

Tak semua serpih memiliki bentuk yang sama.
Ada yang tajam oleh perbedaan, ada yang kusam oleh salah paham,
ada yang retak karena jarak.
Namun tangan kasih selalu menemukan cara
menyatukan yang tercerai, menguatkan yang rapuh,
dan memuliakan yang berbeda.

Persahabatan tak meminta kita serupa.
Ia hanya meminta hati yang cukup lapang untuk menerima,
cukup rendah untuk memahami,
dan cukup kuat untuk memaafkan.

Sebab mozaik yang paling indah
bukanlah yang tersusun dari batu paling mahal,
melainkan dari serpihan sederhana
yang rela saling mengisi kekosongan.

Maka, bila kelak usia menyisakan jejak di wajah kita,
biarlah dunia mengenang bahwa pernah ada sekumpulan jiwa
yang memilih saling menguatkan,
bukan saling menjatuhkan.

Dan di ujung perjalanan,
ketika waktu menutup lembar terakhir kehidupan,
kita akan tersenyum melihat karya terindah itu
sebuah mozaik yang tak pernah usang,
karena setiap kepingnya dipahat oleh cinta,
dipoles oleh pengorbanan,
dan diabadikan oleh persahabatan.

SITTI HASNIDAR

Merajut Persahabatan Penyair

Di meja-meja sunyi,
kami datang membawa musim yang berbeda
ada yang memetik kata dari ombak,
ada yang memungut metafora di punggung gunung,
ada yang menjemput sajak dari doa seorang ibu.

Tak seorang pun serupa,
namun setiap jiwa adalah kepingan mozaik
yang mencari tempatnya di dinding keabadian.

Kami tak merajut dengan benang sutra,
melainkan dengan aksara.
Kami tak menyulam dengan jarum emas,
melainkan dengan luka, harapan,
dan cinta yang tak selesai diucapkan.

Satu bait menjadi jembatan,
satu puisi menjadi pelukan,
satu pertemuan menjadi rumah
bagi hati yang lama mengembara.

Persahabatan penyair tak lahir karena nama,
tak tumbuh karena tepuk tangan,
melainkan karena kami percaya
bahwa setiap kata yang jujur
akan menemukan saudaranya.

Jika ada yang jatuh,
yang lain menjadi larik penyangga.
Jika ada yang lelah,
yang lain menyalakan pelita dengan nyala imajinasi.

Lihatlah...
betapa indah mozaik itu.
Tak satu warna menguasai, tak satu suara mendominasi.
Semuanya saling melengkapi,
menjadi lukisan yang utuh di kanvas kemanusiaan.

Maka biarlah waktu terus berjalan, musim berganti, usia bertambah.
Selama pena masih mengenal tinta, selama hati masih setia pada makna,
kita akan tetap merajut persahabatan dengan benang-benang puisi.

BIODATA

 



v Nama Lengkap                            : Dr. Dra.  Sitti Hasnidar, M.Pd

v NIP                                              : 196811241999032001

v Tempat/Tgl Lahir                        : Sabang/ 24 November 1968

v Jenis Kelamin                              : Perempuan

v Jabatan                                         : Pengawas Ahli Madya

v Pangkat/Golongan                       : Pembina Utama Madya/IVd

v Pendidikan Terakhir                    : S-3

v Instansi/Tempat Tugas                : Dinas Pendidikan Aceh

v Alamat Rumah                            : JL. Mujahidin No. 32 Desa Lambaro Skep Banda Aceh

v Nomor Telpon/HP                       : 085260170688

v Email                                           : hasnidar.sitti@gmail.com

 

 

 

                                                                                                            Banda Aceh, 29 Juni 2026

 

 

ENGKOT PAWEUH BOH JANTONG PISANG: CITA RASA YANG

 MENYATUKAN PERBEDAAN

 

SITTI HASNIDAR

 

Setiap keluarga memiliki kisahnya sendiri tentang makanan. Ada yang diwariskan melalui resep yang ditulis rapi di dalam buku tua, ada pula yang diwariskan melalui tangan-tangan ibu yang dengan sabar mengajarkan anak-anaknya memasak di dapur. Bagiku, kenangan itu hidup dalam semangkuk Engkot Paweuh Boh Jantong Pisang, salah satu masakan khas Aceh Besar yang sederhana, tetapi menyimpan rasa dan makna yang begitu dalam.

Aku lahir dari keluarga Aceh tulen. Ayahku berasal dari Pidie, sementara ibuku berasal dari Aceh Besar. Dari kedua orang tua ku, terutama ibu, aku belajar bahwa memasak bukan sekadar mengolah bahan makanan, melainkan juga menjaga warisan budaya. Di dapur rumah kami, aroma rempah selalu memenuhi ruangan. Cabai, kunyit, bawang merah, bawang putih, serai, dan berbagai bumbu khas Aceh berpadu menghasilkan cita rasa yang sulit dilupakan.

Di antara sekian banyak masakan yang sering disajikan, Engkot Paweuh Boh Jantong Pisang adalah hidangan yang paling dinanti oleh seluruh anggota keluarga. Masakan ini menggunakan jantung pisang yang diolah bersama ikan air tawar dengan bumbu khas Aceh. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan memiliki aroma rempah yang begitu menggugah selera. Tekstur lembut jantung pisang berpadu sempurna dengan daging ikan yang segar, menciptakan kelezatan yang selalu membuat kami ingin menambah nasi.

Sejak kecil aku sering membantu ibu menyiapkan masakan ini. Aku belajar memilih jantung pisang yang masih muda, memotongnya dengan hati-hati, lalu merendamnya agar getahnya berkurang. Ibu selalu berkata bahwa memasak membutuhkan kesabaran. "Kalau memasak dengan hati yang senang, insyaallah rasanya juga akan lebih nikmat," begitu nasihatnya yang hingga kini masih kuingat.

Waktu terus berjalan. Aku kemudian menikah dengan seorang laki-laki yang berasal dari keluarga dengan latar budaya yang berbeda. Ayahnya bersuku Jawa, sedangkan ibunya berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Awalnya aku sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah suamiku akan menyukai masakan Aceh yang terkenal kaya rempah dan memiliki cita rasa yang kuat. Aku menduga lidahnya mungkin lebih akrab dengan gudeg, rawon, rendang, atau gulai khas daerah asal keluarganya.

Namun ternyata dugaanku keliru. Pada suatu hari, ketika kami baru beberapa waktu membangun rumah tangga, aku memasak Engkot Paweuh Boh Jantong Pisang seperti yang biasa diajarkan ibuku. Saat masakan itu tersaji di meja makan, suamiku mencicipinya dengan penuh rasa penasaran. Belum lama setelah suapan pertama, wajahnya berubah cerah.

"Masakan ini enak sekali," katanya sambil tersenyum. "Rasanya berbeda, tapi membuat ingin terus makan."

Sejak hari itu, Engkot Paweuh Boh Jantong Pisang menjadi salah satu makanan favoritnya. Bahkan, ia sering memintaku memasaknya ketika melihat ada pohon pisang di pekarangan rumah yang mulai mengeluarkan jantung. Dengan penuh semangat ia akan berkata, "Kalau jantung pisangnya sudah besar, nanti kita masak, ya dek."

Aku pun tersenyum setiap kali mendengar permintaannya.

Kami biasanya menggunakan ikan air tawar sebagai pelengkapnya. Kadang ikan gabus yang dagingnya padat dan gurih, kadang pula ikan lele yang mudah diperoleh dan tidak kalah lezat jika dimasak dengan bumbu Aceh. Apa pun jenis ikannya, selama dipadukan dengan jantung pisang dan racikan rempah yang tepat, hasilnya selalu mampu menghadirkan rasa yang istimewa.

Momen memasak bersama menjadi kebahagiaan tersendiri dalam keluarga kami. Suamiku bahkan tidak segan membantu mengambil jantung pisang dari halaman rumah atau membersihkan ikan sebelum dimasak. Sementara aku menyiapkan bumbu-bumbu yang telah menjadi resep turun-temurun dari ibuku. Dapur kami dipenuhi aroma harum yang mengingatkanku pada masa kecil, ketika ibu memasak dengan penuh kasih sayang untuk seluruh keluarga.

Melalui makanan sederhana ini, aku menyadari bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang untuk saling memahami. Justru makanan menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai latar belakang. Dalam keluarga kecil kami, darah Aceh, Jawa, dan Minangkabau berpadu bukan hanya dalam ikatan keluarga, tetapi juga dalam kenikmatan menikmati hidangan yang sama di meja makan.

Aku percaya bahwa setiap suapan Engkot Paweuh Boh Jantong Pisang membawa cerita. Cerita tentang seorang ibu yang mewariskan resep kepada anaknya, tentang seorang anak yang berusaha menjaga tradisi keluarganya, dan tentang seorang suami yang dengan tulus mencintai budaya istrinya melalui cita rasa masakan yang disajikan setiap hari.

Kini, setiap kali memasak hidangan itu, aku selalu teringat kepada kedua orang tuaku. Terutama ibuku yang telah mengajarkan bahwa warisan paling berharga tidak selalu berupa harta benda. Warisan itu bisa berupa resep sederhana yang dimasak dengan penuh cinta, kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semoga suatu hari nanti, anak-anak dan cucu-cucu kami juga mengenal Engkot Paweuh Boh Jantong Pisang, bukan sekadar sebagai makanan khas Aceh Besar, tetapi sebagai simbol kasih sayang, kebersamaan, dan penghormatan terhadap akar budaya keluarga. Sebab, di balik sepiring masakan tradisional, tersimpan nilai-nilai kehidupan yang mengajarkan bahwa cinta dapat tumbuh dari hal-hal yang paling sederhana, bahkan dari semangkuk masakan hangat yang dinikmati bersama orang-orang tercinta.

 

BIODATA PENULIS



v Nama Lengkap                            : Dr. Dra.  Sitti Hasnidar, M.Pd

v NIP                                              : 196811241999032001

v Tempat/Tgl Lahir                        : Sabang/ 24 November 1968

v Jenis Kelamin                              : Perempuan

v Jabatan                                         : Pengawas Ahli Madya

v Pangkat/Golongan                       : Pembina Utama Madya/IVd

v Pendidikan Terakhir                    : S-3

v Instansi/Tempat Tugas                : Dinas Pendidikan Aceh

v Alamat Rumah                            : JL. Mujahidin NO.32 Desa Lambaro Skep Banda

            Aceh

v Nomor Telpon/HP                       : 085260170688

v Email                                           : hasnidar.sitti@gmail.com

v   Prestasi                                       : Guru Terbaik IPA Program Sampoerna Fondation (2006)

                                                            Guru Berprestasi  II Tingkat Kota Banda Aceh (2006)

                                                            Guru Berprestasi  I Tingkat Kota Banda Aceh (2012)

Guru Berprestasi  I Tingkat Provinsi Aceh (2012)

Finalis Guru Berprestasi Tingkat Nasionaal (2012)

Guru Berkarya dari Golkar Award (2013)  

v  Pelatihan / Pendidikan                  : RECSAM, Penang, Malaysia (2005)

: Jiangsu Normal University, China (2019).

 

PANTUN

 


"Tangis Ibu Pertiwi"

 Karya: Sitti Hasnidar


Ibu Pertiwi kini terdiam,

menahan perih yang tak terucap.

Tubuhnya penuh luka,

urat-urat sungainya mengering,

dadanya yang hijau

kini dipenuhi debu dan asap.

 

Dahulu hutan adalah rumah,

tempat burung menenun fajar

dengan nyanyian yang merdu.

Rusa berlari di padang embun,

harimau menjaga sunyi,

dan kupu-kupu menari

di antara bunga-bunga kehidupan.

 

Kini semuanya berubah.

 

Keserakahan telah menjelma

menjadi kapak yang tak mengenal belas kasihan.

Pohon-pohon rebah

sebelum sempat menua,

gunung dikeruk tanpa henti,

dan rimba kehilangan jiwanya.

 

Burung-burung terbang

membawa kehilangan.

Tak ada lagi dahan

untuk membangun sarang,

tak ada lagi hutan

tempat anak-anak mereka belajar mengepakkan sayap.

Satwa liar terusir,

berjalan tanpa arah,

mencari rumah

yang telah dirampas manusia.

 

Ibu Pertiwi menangis.

Air matanya mengalir

menjadi sungai yang meluap.

Tangisnya menjelma banjir,

air bah turun menyapu sawah,

rumah-rumah,

jembatan,

bahkan mimpi-mimpi manusia.

Bukan karena alam membenci,

tetapi karena alam telah terlalu lama disakiti.

 

Indonesia yang dahulu

dijuluki zamrud khatulistiwa,

kini perlahan porak-poranda.

Bukit-bukit menjadi gersang,

laut dipenuhi luka,

udara kehilangan kesegarannya,

dan langit tak lagi sebiru kenangan.

 

Wahai manusia,

engkau boleh membangun peradaban,

tetapi jangan menghancurkan kehidupan.

Sebab ketika pohon terakhir tumbang,

ketika burung terakhir kehilangan langitnya,

ketika sungai terakhir tak lagi mengalir jernih,

barulah kita sadar,

bahwa uang tak dapat membeli

sejuknya hutan,

merdunya kicau burung,

atau pelukan Ibu Pertiwi.

 

Mari kita obati luka bumi,

sebelum tangisnya

menjadi bencana yang tak lagi mampu kita bendung.

Sebab jika Ibu Pertiwi benar-benar kehilangan senyumnya,

ke mana lagi anak-anaknya akan pulang?

BERBUAT BAIK PADA SESAMA


 

“Rani dan Teman-Temannya”

Sitti Hasnidar

 

 

Di sebuah desa kecil bernama Desa Ceria, hiduplah seorang gadis bernama Rani. Rani adalah anak yang baik hati dan selalu ingin membantu orang lain. Ia sangat mencintai Tuhan dan selalu berdoa setiap pagi sebelum memulai harinya.

Rani memiliki tiga teman dekat: Achmad, Aisha, dan Faizan. Mereka sering bermain bersama dan saling bercerita tentang pelajaran yang mereka dapat dari ajaran agama. Suatu hari, mereka memutuskan untuk melakukan sesuatu yang spesial.

"Bagaimana kalau kita melakukan misi kebaikan?" usul Aisha. Semua setuju dan mereka pun mulai merencanakan apa yang bisa mereka lakukan.

" Kita bisa membantu nenek Jamilah yang tinggal sendirian di ujung desa!" kata Faizan. Nenek Jamilah adalah seorang janda yang dikenal baik hati tetapi sering kesepian.

Keesokan harinya, Aisha dan teman-temannya membawa keranjang berisi makanan dan bunga untuk nenek Jamilah. Mereka berjalan sambil bernyanyi dan berdoa agar nenek Jamilah senang dengan kejutan mereka.

Sesampainya di rumah nenek Jamilah, mereka mengetuk pintu. "Nenek, ini kami! Achmad, Faizan, dan Aisha!" teriak Rani. Nenek Jamilah membuka pintu dengan senyuman lebar. "Oh, anak-anak! Apa yang kalian bawa untuk nenek?"

Mereka memberikan makanan dan bunga. Nenek Jamilah sangat senang dan mengundang mereka masuk. "Mari kita minum teh dan bercerita," ajaknya.

Selama minum teh, nenek Jamilah bercerita tentang kisah-kisah di masa lalu dan pelajaran hidup yang berharga. Rani dan teman-temannya mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka belajar tentang pentingnya berbagi dan menghargai orang tua.

Setelah menghabiskan waktu bersama, Rani dan teman-temannya pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan. Mereka merasa senang karena telah melakukan kebaikan dan belajar banyak dari nenek Jamilah.

Dari hari itu, mereka berjanji untuk terus melakukan misi kebaikan setiap minggu. Rani menyadari bahwa membantu sesama adalah cara terbaik untuk menunjukkan cinta kepada Tuhan dan kepada orang lain.

Dan begitulah, Rani dan teman-temannya terus berpetualang dalam kebaikan, selalu mengingat bahwa setiap tindakan kecil dapat membawa kebahagiaan besar, baik bagi diri mereka sendiri maupun orang lain.

 

Pesan Moral: "Kebaikan yang kita lakukan, sekecil apapun, dapat membawa kebahagiaan untuk banyak orang."

 

BIOGRAFI  PENULIS

 Dr. Dra. Sitti Hasnidar, M.Pd, merupakan anak ke lima dari lima bersaudara yang merupakan anak bungsu dari pasangan H. Hasbi Alibasyah (alm) dan Hj. Rohani Yusuf (alm), dilahirkan di Kota Sabang, 24 November 1968, bertugas sebagai guru  kimia pada SMA Negeri 8 Banda Aceh,  dimulai dari pendidikan di SDN 5 Sabang (1981), SMPN 7 Banda Aceh (1984), SMA Adidarma Banda Aceh (1987), FKIP Pendidikan Kimia Universitas Syiah Kuala (1992), Magister Administrasi Pendidikan Unsyiah (2012), Program Doktoral UIN Ar Raniry (2019), prestasi yang pernah diraih Guru Terbaik IPA Program Sampoerna Fondation (2006), Guru Favorit SMA Negeri 8 Banda Aceh (2006), Guru Berprestasi Tingkat Provinsi Aceh (2012), Finalis Guru Berprestasi Tingkat Nasionaal (2012) dan Guru Berkarya dari Golkar Award (2013).    Pelatihan dan pendidikan di Luar Negeri: Recsam, Penang, Malaysia (2005) dan Jiangsu Normal University, China (2019). Banyak kegiatan lomba yang diikutinya baik di tingkat kota, provinsi bahkan Nasional, diantaranya lomba menulis karya ilmiah, Inobel, karbag, simposium, dan juga OGN. Keaktifannya dibidang tulis menulis membuatnya dapat meraih pangkat/ golongan ruang: Guru Utama/IVd.  17 Januari 2022 dilantik sebagai kepala SMA Negeri 13 Banda Aceh, kemudian 1 Januari 2024 dilantik oleh Bapak Pj. Gubernur Aceh (Achmad Marzuki) menjadi Pengawas Sekolah di lingkungan Dinas pendidikan Aceh.

NEGERI TIRAI BAMBU

 

TIONGKOK "NEGERI TIRAI BAMBU"

 

SITTI  HASNIDAR

 

Hai, sahabatku semua! Pernah ngak kalian  membayangkan ada tembok yang sangat panjang hingga puluhan ribu kilo meter? Ternyata ada lho! Namanya  Tembok Besar Tiongkok (Great Wall of China) dan letaknya  di utara Tiongkok yang membentang dari provinsi Liaoning di timur hingga Gansu di barat. Luar biasa ya! Yuk kita cari tahu lebih banyak lagi tentang Republik  Rakyat Tiongkok yang penuh keajaiban dan hal-hal menarik!

Republik Rakyat Tiongkok, sebuah negara dengan sejarah yang kaya dan budaya yang mendalam, merupakan salah satu peradaban tertua di dunia.

Tiongkok, sering disebut sebagai "Negeri Seribu Tahun," atau “Negeri Tirai Bambu” memiliki luas wilayah sekitar 9,6 juta kilometer persegi, menjadikannya negara terbesar ketiga di dunia. Ibu kota Tiongkok adalah Beijing, yang juga merupakan pusat politik, budaya, dan pendidikan. Tiongkok berbatasan dengan 14 negara, termasuk India, Rusia, dan Vietnam. Salah satu fakta menarik adalah keberagaman bahasa dan etnisnya, dengan lebih dari 55 kelompok etnis yang diakui secara resmi.

Kalau kamu ke Tiongkok, jangan lupa mengunjungi Tembok Besar (Great Wall of China). Tembok ini dibangun lebih dari 2.000 tahun yang lalu, Tembok Besar membentang sepanjang 21.196 kilometer dan merupakan struktur buatan manusia terpanjang di dunia. Tembok ini tidak hanya menjadi simbol kekuatan dan ketahanan Tiongkok, tetapi juga menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan, menjadikannya tujuan wisata yang populer bagi jutaan pengunjung setiap tahun.

Kemudian jangan lupa juga kunjungi  Kota Terlarang, yang letaknya di jantung Beijing. Dikenal sebagai istana kekaisaran, Kota Terlarang adalah kompleks arsitektur megah yang terdiri dari hampir 1.000 bangunan. Selama lebih dari 500 tahun, tempat ini menjadi kediaman para kaisar Tiongkok dan simbol kekuasaan. Dengan desain yang rumit dan ornamen yang indah, Kota Terlarang menarik perhatian pengunjung dengan keindahan serta sejarahnya yang kaya.

Budaya Tiongkok juga sangat unik, salah satunya adalah Festival Lentera. Dirayakan pada malam bulan purnama di bulan pertama kalender lunar, festival ini ditandai dengan pameran lentera yang berwarna-warni dan berbagai pertunjukan tradisional. Festival ini melambangkan kebersamaan dan harapan, serta merupakan waktu bagi keluarga untuk berkumpul dan merayakan.

Jika kamu suka mecicipi makanan baru,   kamu harus mencoba Peking Duck. Dikenal dengan kulitnya yang renyah dan dagingnya yang lezat, Peking Duck telah menjadi simbol gastronomi Tiongkok. Hidangan ini biasanya disajikan dengan pancake tipis, saus manis, dan irisan sayuran, menjadikannya pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

Wah, seru banget ya mengenal  Republik  Rakyat Tiongkok! Negara ini memiliki dengan sejarah yang kaya, budaya yang beragam, dan keindahan alam yang menakjubkan, Republik Rakyat Tiongkok terus memikat hati banyak orang di seluruh dunia. Negara ini tidak hanya menawarkan keajaiban arsitektur, tetapi juga warisan budaya yang patut dijelajahi dan dirayakan.

Sitti Hasnidar lulusan Program Doktoral Pendidikan Agama Islam UIN Ar Raniry Banda Aceh. Memiliki pengalaman sebagai guru (1999 – 2021) dan sebagai kepala Sekolah Menengah Atas (2022-2025), selanjutnya beralih lagi sebagai Pengawas Sekolah (2025-sekarang)


 

&&&&&&&

 

AIR TERJUN SUHOM

 

Keindahan Air Terjun Suhom Aceh Besar

Sittin Hasnidar

 

Perjalanan pertama akan membuatmu memilih antara jera atau ingin mencoba menikmati lagi, sialnya wisata air terjun selalu menjadi hal menyenangkan tersendiri bagi saya untuk terus menikmati pesona alam sembari bermain air jernih lagi menyegarkan.

Panorama Air terjun Kuta Malaka dan Moen Ceunong di Aceh Besar memang menyajikan pesona nyata bagi penjelajah, namun kurang lengkap rasanya jika belum menikmati eksotisnya Air Terjun Kreung Kala atau lebih familiar dengan sebutan Air Terjun Suhom.

Pesona air terjun Suhom berada di Desa Krueng Kala kecamatan Lhoong kabupaten Aceh Besar, sering menjadi alternatif yang dipilih keluarga karena perpaduan telaga biru dengan hijaunya pohon rimbun dipadu dengan segarnya udara dan riyuhnya gemercik air yang terdengar lembut ditelinga.

 

Walau berada di tengah-tengah hutan lhoong, tapi tetap saja disana terdapat banyak perumahan warga dan sekolah sehingga tidak tampak sepunuhnya hutan belantara. Disana pula banyak anak-anak warga yang ikut bermain.

"Wisata ini sangat cocok dikunjungi oleh keluarga yang ingin menghabiskan waktu pekan karena rute perjalanan yang mudah dijangkau dan fasilitas yang telah disediakan oleh masyarakat sehingga siapapun bisa kesini tanpa mikir dua kali," ujar Arsyifa salahsatu pengunjung dari Aceh Barat Daya.

Untuk menuju lokasi

Beranjak dari Banda Aceh menuju lokasi anda membutuhkan waktu sekitar setengah jam saja atau sekitar 75 kilometer dengan perjalanan mulus dan tidak menantang sama sekali.

Seperti perjalanan lintas kota umumnya, kami tentu harus berhadapan dengan banyak kendaraan yang melahap habis jalanan namun perjalanan selanjutnya akan membawa anda ke suasana pegunugan yang terlihat sedikit ekstrim bagi pemula karena akan melewati gunung Paro dan Kulu.

Tikungan tajam, turunan curam, jurang serta tebing tinggi akan menemani perjalanan anda melintasi kedua gunung tersebut sehingga dibutuhkan kehati-hatian bagi siapa saja yang ingin kesana.

Terdengar ekstrim, tapi megahnya pesona laut biru dari atas bukit mampu menghipnotis siapa saja. Rindangnya pepohonan tak tinggal pula puluhan monyet akan terlihat dipinggir jalan.

Setelah turun dari gunung, untuk mencapai ke lokasi air terjun sekitar 30 menit lagi, lelah diperjalanan pun akan terbayar ketika sampai ke kawasan tersebut.

Wisatawan akan disambut dengan air segar penggunungan yang berjatuhan dari ketinggian sekitar 100 meter, banyaknya pepohonan membuat lokasi tampak teduh.

Air terjun suhom meiliki tiga tingkat, tingkatan pertama sekitar dua meter tingkatan kedua sekitar enam meter dan tingkatan ketiga berkisar 12 meter.

Pengunjung tidak bisa naik ke tingkatan kedua dan ketiga dikarenakan adanya pembangkit listrik tenaga mikro hidro yang mampu menghasilkan listrik sekitar 22 kilowat perjamnya.

“Anak-anak kami maupun pengunjung akan kami larang jika ada yang mencoba naik keatas karena khawatir akan tersengat listrik,” ujar Aminah (44) warga Lhoong penyewa fasilitas tikar dilokasi Air terjun Suhom.

Pengunjung hanya akan menikmati sejuknya air pada tingkatan pertama ditelaga sebesar enam meter dan kedalaman kurang lebih empat meter sehingga bisa dipakai untuk berenang.

Untuk memanjakan tubuh, anda bisa saja mendekat ke sumber air terjun dengan menikmati kucuran air yang menabrak tubuh.

Sehingga hal itu bisa dijadikan sebagai alternatif pijat refleksi alami dari alam. Pengunjung juga bisa berendam tenang dengan cara menempelkan badan diatas bebatuan yang tidak licin.

Sejuknya air dan indahnya pemandangan serta sesekali terdengar pula siulan burung akan menghipnotis siapa saja yang ingin berlama-lama berada disana.

Jadi wajar saja banyak keluarga yang menjadikan tempat ini sebagai pilihan wisata akhir pekan.

Fasilitas pendukung

Wisata Air Terjun Suhom kian hari semakin terkenal karena banyaknya muda mudi yang mengabadikan moment indah ini di media sosial.

Bisa dibilang wisata air terjun masuk kedalam kategori surganya pecinta foto alam, oleh karenanya semakin hari banyak pengunjung yang berdatangan.

Side effect dari adanya air terjun Suhom setidaknya membuat warga mendapatkan lapangan pekerjaan dengan menyediakan faslitas seperti penyediaan tikar dengan harga sewa sepuluh ribu rupiah pertikar.

Setidaknya ada tiga kantin kecil disana untuk memudahkan pengunjung jika tidak membawa persediaan makanan.

Fasilitas lainnya seperti mushalla, tempat ganti pakaian khusus serta toilet juga tersedia di kawasan Air Terjun Suhom, anda cukup menyiapkan dua ribu rupiah saja untuk menggunakan setiap fasilitas disana sebagai biaya keamanan.

Berwisata ke air terjun Suhom akan terasa lengkap jika kita berkunjung ketika musim durian tiba karena durian Lhoong memang terkenal dengan kelezatannya.

 

Bukit Lamreh: Pemandangan Lautan Hindia yang Memukau

 

 

DI tengah popularitas destinasi wisata yang terus berkembang di Aceh, Bukit Lamreh di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, muncul sebagai salah satu pilihan utama bagi para pencinta alam. Dengan lanskap tebing karst yang memukau dan pemandangan laut lepas Samudra Hindia, bukit ini mengingatkan pengunjung akan kemegahan Nusa Penida di Bali. Tak heran, banyak yang menjuluki Bukit Lamreh sebagai “Nusa Penida-nya Aceh.”

Bukit Lamreh berada di puncak Ujung Kelindu, spot tertinggi di daerah tersebut yang memungkinkan pengunjung menikmati panorama luas laut dan hamparan tebing yang dramatis. Dari titik ini, Pulau Weh di kejauhan tampak samar-samar di balik cakrawala, menciptakan lanskap yang spektakuler. Suasana tenang dengan angin laut yang menyapu bukit, serta suara deburan ombak yang menghantam dinding tebing, menjadi latar yang menenangkan sekaligus mengagumkan.

Keindahan Bukit Lamreh ini sudah banyak dikenal oleh para generasi muda di Aceh. Menjadi tempat favorit untuk menikmati sunrise dan sunset, bukit ini juga ramai dikunjungi pada hari libur dan akhir pekan. Dari tempat inilah, pengunjung dapat menikmati perpaduan warna biru toska dan biru tua laut yang menghias cakrawala, menciptakan pemandangan yang sungguh menakjubkan, seolah-olah kita sedang berada di puncak dunia.

Ketenaran Bukit Lamreh meroket berkat media sosial, terutama TikTok. Banyak konten kreator dan influencer yang membagikan keindahan bukit ini hingga menjadi viral. Rausa Islamyi Silaban, seorang wisatawan asal Sumatera Utara, mengaku tertarik mengunjungi Bukit Lamreh setelah melihat keindahannya di TikTok.

“Awalnya tahu dari TikTok, terus di kolom komentar banyak yang bilang ini versi Nusa Penidanya Aceh. Pas sampai ke sini, ternyata memang iya, tapi Aceh punya versi keindahan tersendiri,” ungkapnya, Minggu (8/9/2024)

Wulan, seorang wisatawan asal Langsa, juga menyebutkan bahwa ia sering melihat Bukit Lamreh muncul di laman FYP (For Your Page) TikTok, membuatnya semakin penasaran.

“Kalau buka TikTok sering kali muncul di beranda. Jadi saya sering like dan simpan postingan, makin sering muncul terus. Kebetulan kami ke Banda Aceh, jadi mampir ke sini, bagus pokoknya recommended,” ujar Wulan.

Kekuatan media sosial menjadikan Bukit Lamreh semakin dikenal oleh wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan wisatawan asing yang penasaran ingin menikmati pemandangan unik ini.

Bukit Lamreh tidak hanya menawarkan pemandangan menawan, tetapi juga berbagai kegiatan seru yang membuat pengalaman wisata semakin berkesan. Bagi para pecinta petualangan, bukit ini menyediakan jalur trekking dan hiking yang menantang. Dengan melewati jalur-jalur alami, pengunjung dapat menyusuri keindahan bukit sambil menikmati udara segar dan sensasi mendaki yang menyenangkan. Medan yang sedikit menanjak mungkin menguji stamina, namun sebanding dengan suguhan panorama indah di setiap pemberhentian.

Tak hanya itu, Bukit Lamreh juga menjadi tempat ideal untuk berkemah. Menghabiskan malam di sini adalah pengalaman yang tak terlupakan, terutama saat malam hari ketika langit jernih dan dipenuhi bintang. Suasana hening, hanya diiringi suara alam membuat momen berkemah semakin magis. Berkemah di Bukit Lamreh memungkinkan pengunjung menikmati keindahan alam selama 24 jam penuh, mulai dari melihat sunrise di pagi hari hingga menikmati sunset dan malam penuh bintang.

Salah satu daya tarik Bukit Lamreh adalah pemandangan unik yang memadukan keindahan gunung dan laut. Terbentuk dari batuan karst, bukit ini memiliki tebing-tebing yang menjulang tinggi dan langsung berbatasan dengan laut dalam. Cekungan pantai berpasir putih yang terletak di bagian bawah bukit memberikan sentuhan eksotis, memikat siapa saja yang memandangnya. Pantai Lhok Mee, yang berada tak jauh dari Bukit Lamreh, turut melengkapi keindahan kawasan ini. Wisatawan dapat menikmati pemandangan tebing dan laut sekaligus, menciptakan kesan yang berbeda dari kebanyakan destinasi wisata lainnya.

Di sisi kanan Bukit Lamreh, tebing ini langsung bersentuhan dengan ombak laut. Pada hari libur, banyak anak muda yang memadati ujung bukit untuk berswafoto dengan latar belakang laut biru, Samudra Hindia yang luas, serta dinding bukit yang berhadapan langsung dengan ombak. Pemandangan ini menawarkan pengalaman visual yang seakan tak pernah bosan untuk dinikmati, terutama bagi para pecinta fotografi dan alam.

Selain keindahan alamnya, Bukit Lamreh juga menyimpan kearifan lokal dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar. Warga desa Lamreh menyambut wisatawan dengan ramah, bahkan pada hari libur, banyak pedagang makanan yang menjual aneka makanan dan minuman di atas bukit. Pengunjung dapat menikmati kuliner lokal sembari bersantai dan menikmati angin laut yang segar. Kehadiran para pedagang ini memberikan kenyamanan tambahan bagi wisatawan yang datang dari jauh dan membutuhkan makanan atau minuman setelah menempuh perjalanan.

Pemerintah Aceh Besar juga terus mendorong promosi wisata Bukit Lamreh agar semakin dikenal luas. Langkah ini diambil untuk mendukung ekonomi lokal dan memperkenalkan keindahan alam Aceh kepada dunia. Dengan adanya dukungan dari pemerintah, diharapkan Bukit Lamreh dapat berkembang sebagai destinasi wisata andalan yang memperkenalkan pesona Aceh kepada wisatawan lokal maupun mancanegara.

Jika Anda berencana mengunjungi Bukit Lamreh, ada beberapa tips yang bisa membuat perjalanan lebih menyenangkan. Pertama, pastikan datang saat cuaca cerah, terutama jika ingin menikmati sunrise atau sunset yang memukau. Jangan lupa membawa bekal dan air minum, serta perlengkapan pendakian jika ingin mencoba hiking di bukit ini. Karena angin laut yang kencang, disarankan membawa jaket atau pakaian hangat agar tetap nyaman.

Bukit Lamreh juga memiliki akses yang cukup terjangkau bagi wisatawan, tetapi lebih disarankan menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan agar lebih fleksibel. Selama di sana, tetaplah menjaga kebersihan dan hormati lingkungan sekitar, sehingga keindahan Bukit Lamreh dapat dinikmati generasi berikutnya.

Keindahan Bukit Lamreh mungkin masih menjadi “rahasia tersembunyi” bagi sebagian orang, namun bagi mereka yang sudah datang, tempat ini adalah destinasi yang tak terlupakan. Lanskap alam yang memukau, kombinasi tebing dan laut, suasana yang damai, serta berbagai aktivitas yang bisa dilakukan membuat Bukit Lamreh layak menjadi tujuan wisata utama di Aceh. Apalagi dengan popularitasnya di media sosial, Bukit Lamreh terus menarik hati para generasi muda untuk datang dan menikmati keindahan alam yang dimilikinya.

Dengan segala pesona yang ditawarkannya, Bukit Lamreh menjadi bukti bahwa Aceh memiliki tempat-tempat wisata yang tak kalah dengan destinasi populer lainnya di Indonesia. Bagi siapa saja yang mencari ketenangan, petualangan, atau sekadar ingin menikmati panorama alam yang indah, Bukit Lamreh adalah jawaban yang tepat. Satu hal yang pasti, setiap perjalanan ke Bukit Lamreh selalu menyisakan kenangan yang ingin diulang kembali. 

 

 

HAJI BAGI YANG MAMPU

 

Kenapa Haji Hanya Diwajibkan Bagi Yang Mampu?

 

Suatu pagi di kelas, Bu Guru sedang menjelaskan tentang rukun Islam. Di papan tulis tertulis: Salat, Zakat, Puasa, dan Haji.

Tiba-tiba Andi mengangkat tangan.

“Bu Guru,” tanyanya polos, “kenapa haji hanya diwajibkan bagi orang yang mampu? Bukankah semua orang ingin pergi ke Makkah?”

Bu Guru tersenyum hangat. Ia senang melihat rasa ingin tahu murid-muridnya.

“Pertanyaan yang sangat baik, Andi,” katanya. “Mari kita pahami bersama.”

Bu Guru lalu menggambar sebuah perjalanan panjang di papan tulis, dari rumah menuju Tanah Suci.

“Anak-anak,” jelasnya, “perjalanan haji bukan perjalanan yang dekat. Dibutuhkan biaya, kesehatan, dan kekuatan. Karena itu, Allah hanya mewajibkan haji bagi orang yang mampu.”

Kemudian Bu Guru membuka Al-Qur’an dan membacakan firman Allah:

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.”
(QS. Ali Imran: 97)

Anak-anak mendengarkan dengan serius.

“Artinya,” lanjut Bu Guru, “Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Allah tidak ingin memberatkan hamba-Nya. Jika seseorang belum mampu, maka ia tidak berdosa karena belum pergi haji.”

Siti kemudian bertanya, “Bu, apa maksud ‘mampu’ itu?”

Bu Guru menjelaskan dengan lembut, “Mampu berarti memiliki biaya yang cukup, tubuh yang sehat, perjalanan yang aman, dan tidak meninggalkan keluarga dalam kesulitan.”

Kemudian Bu Guru menambahkan sebuah hadis Nabi Muhammad:

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah.”
(HR. Muslim)

Bu Guru tersenyum dan melanjutkan, “Namun kewajiban itu berlaku bagi yang mampu. Jika belum mampu, kita tetap bisa beribadah dengan cara lain, seperti salat, berdoa, dan berbuat baik.”

Andi mengangguk-angguk.

“Jadi, kalau kita belum mampu, kita tidak perlu sedih ya, Bu?”

“Benar,” jawab Bu Guru. “Yang penting kita punya niat yang baik dan berusaha menjadi orang yang lebih baik setiap hari. Siapa tahu suatu hari Allah memberi kita kesempatan untuk pergi haji.”

Anak-anak tersenyum penuh semangat.

Hari itu mereka belajar bahwa haji bukan sekadar perjalanan jauh, tetapi ibadah yang penuh makna. Dan Allah, dengan kasih sayang-Nya, hanya mewajibkannya bagi orang yang benar-benar mampu.

Di dalam hati mereka, tumbuh sebuah harapan kecil: suatu hari nanti, mereka ingin menjadi tamu Allah di Tanah Suci.